Mereka menamakan diri Camp Dayak Community.
Nama yang kerap disalahartikan sebagai identitas suku, padahal sejatinya merupakan simbol persatuan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia yang dipertemukan oleh satu tujuan: menuntut ilmu dan bertahan hidup sebagai anak rantau.
Bascamp Sederhana, Solidaritas Luar Biasa
Camp Dayak bermarkas di sebuah rumah dinas kosong bekas komplek guru SPP Padang, tepat di belakang Masjid Raya Katib Sulaiman.
Namun justru di tempat itulah, solidaritas tumbuh tanpa syarat.
Di sana, mereka belajar arti berbagi—dari berbagi makanan, berbagi cerita, hingga berbagi beban hidup.
Bhineka Tunggal Ika dalam Kehidupan Nyata
Camp Dayak bukan hanya tempat tinggal, tetapi miniatur Indonesia.
Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang:
- Jawa
- Minangkabau
- Sunda
- Batak
- Papua
Bang Raden, Pemimpin Berjiwa Pejuang
Komunitas ini dipimpin oleh sosok kharismatik yang dikenal dengan panggilan Bang Raden, mantan Presiden BEM Universitas Taman Siswa Padang periode 2011–2013.
Gaya kepemimpinannya tegas, berani, dan penuh tanggung jawab, bahkan kerap disandingkan dengan semangat juang ala Pangeran Diponegoro.
Di bawah kepemimpinannya, Camp Dayak tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa yang tangguh dan pantang menyerah.
Ayah Dasrizal, Sosok Penyeimbang
Di balik kepemimpinan tersebut, hadir sosok penasehat yang akrab disapa Ayah Dasrizal.
Kesabarannya menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan komunitas.
Warna-Warni Karakter di Dalamnya
Setiap anggota Camp Dayak menghadirkan cerita unik yang menjadi bagian dari mozaik kebersamaan.
Prasetyo — Si “Dokter Cinta” yang Keras Kepala
Wawan Setiawan — Sosok Tenang dan Religius
Rico Thomas — Suara Emas Penuh Cerita
Aan Devender — Dunia Poker dan Realita Hidup
Fiki Pendra — Jiwa Bisnis yang Tak Pernah Padam
Bunani (Bang Yance) — Hangat dalam Perbedaan
Ermansyah — Berbagi Tanpa Batas
Gepeng Triyono — Santai dalam Segala Situasi
Diandra Advena — Pemikir Idealistis
Memiliki gagasan besar dan cara pandang berbeda dalam melihat banyak hal, termasuk sistem sosial dan pemerintahan.
Erman Sofian — Sederhana dan Setia
Hendrizal Chan — Pembawa Suasana
Kebersamaan dalam Keterbatasan
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, mereka terbiasa hidup sederhana.
Di sanalah mereka belajar arti cukup, arti berbagi, dan arti memiliki keluarga tanpa hubungan darah.
Kini Tinggal Kenangan
Tak ada lagi bangunan, tak ada lagi lantai yang basah saat hujan.
Namun yang tersisa adalah kenangan—yang tak akan pernah hilang.
Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal
Camp Dayak bukan sekadar tempat berteduh.
Ia adalah:
- ruang belajar kehidupan
- tempat tumbuhnya solidaritas
- dan saksi perjuangan anak bangsa
QBeritakan.id menilai, dari tempat sederhana seperti Camp Dayak, lahir pribadi-pribadi tangguh yang siap menghadapi kehidupan nyata.
