Refleksi Ulang Tahun ke-44
Oleh: Prasetyo Budi
Empat puluh empat tahun lalu, di jalan berbatu dengan tanah merah yang licin ketika hujan turun, di Desa Manggarawan Udik, Kecamatan Labuhan Ratu IV, Lampung Timur, seorang anak kecil memulai hidupnya. Tangis pertamanya pecah di antara kebun kakao, lada, dan kelapa yang membentang luas.
Belum ada internet.
Belum ada telepon pintar.
Belum ada dunia yang bergerak secepat hari ini.
Yang ada hanyalah tanah, kebun, dan kehidupan yang berjalan jujur.
Tanah merah itu adalah sekolah pertama. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur lengket. Kami terjatuh, bangkit, dan berlari lagi. Tanpa sadar, tanah itu sedang membentuk daya tahan—mengajarkan bahwa hidup tak selalu rata, tetapi selalu bisa dilalui dengan keberanian.
Di kiri dan kanan, kebun kakao dan lada menjadi dunia bermain. Pohon kelapa berdiri seperti penjaga desa. Angin membawa aroma tanah basah yang hingga kini masih tersimpan dalam ingatan.
Usiaku empat tahun ketika suara mobil jeep melintas membuat jantung kecil berdegup kencang. Kami ditakut-takuti dengan cerita penculikan. Debu yang beterbangan terasa seperti ancaman besar dalam imajinasi anak-anak desa.
Namun di balik ketakutan itu, ada kebahagiaan yang sederhana.
Gulali manis yang dijual keliling menjadi simbol masa kecil. Dengan uang receh, kami bisa tersenyum sepanjang sore. Celana kolor menjadi pakaian bermain paling nyaman. Kami berlarian tanpa alas kaki, mandi di pancuran seadanya, tertawa tanpa mengenal ambisi dan persaingan.
Lampung Timur kala itu adalah ruang yang luas dan alami. Hidup terasa pelan, tetapi penuh makna.
Kini, 44 tahun telah berlalu.
Desa berubah. Jalan diperbaiki. Kendaraan semakin modern. Anak-anak lebih akrab dengan layar daripada kebun. Teknologi datang membawa kemudahan, kecepatan, dan konektivitas.
Namun ada satu hal yang tak pernah berubah: akar.
Akar itu tertanam di tanah merah.
Di kebun kakao dan lada.
Di suara jeep yang dulu menakutkan.
Di gulali manis yang lengket di jari kecil.
Dari tanah keras itu lahir keteguhan.
Dari ketakutan kecil tumbuh keberanian.
Dari kesederhanaan lahir rasa syukur.
Empat puluh empat tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jarak antara dunia yang polos dan dunia yang serba digital. Tetapi sejauh apa pun langkah melangkah, tempat tumpah darah tetap menjadi titik pulang batin.
Karena pada akhirnya, manusia boleh hidup di zaman modern, tetapi jiwanya selalu kembali pada tanah pertama yang menguatkannya.
Dan di tanah merah Lampung Timur itu, aku bermula.
