Ada sebuah kenyamanan yang aneh saat rindu bertemu dengan hujan di ujung hari. Ketika orang lain berlari mencari tempat berteduh, aku justru sengaja berjalan lambat, membiarkan tiap tetesnya menyentuh dahi—seolah-olah langit sedang berusaha membasuh lelahku merindukanmu.
Banyak orang mengira merindukan seseorang yang tak ada di sisi adalah sebuah kesedihan. Namun bagiku, sore ini berbeda. Di sela aroma tanah yang basah dan langit yang mulai membiru gelap, aku menemukanmu kembali. Bukan dalam wujud fisik, tapi dalam detak jantung yang mendadak hangat saat mengingat tawamu.
Aku tidak butuh kamu melihatku dalam keadaan ini. Aku tidak butuh dunia tahu betapa hebatnya badai di dalam dadaku. Aku hanya ingin menikmati saat-saat ini; di mana hanya ada aku, rintik air, dan bayangmu yang menari di antara lampu-lampu jalan yang mulai menyala.
Sebab pada akhirnya, senja yang hujan adalah caraku merayakanmu tanpa perlu kau tahu.
