-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita


"Ponsel Pintar di Tangan Orang Dungu: Menguliti Tragedi Fitnah Es Gabus"

Kamis, 29 Januari 2026 | Januari 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-29T15:50:32Z



Oleh: Prasetyo Budi

Dunia kita hari ini sedang mengidap penyakit akut bernama "kecepatan tanpa ketepatan." Di tangan orang yang salah, sebuah ponsel pintar bukan lagi alat komunikasi, melainkan senjata pemusnah karakter yang bisa ditembakkan sambil menyeruput kopi. Tragedi "Es Gabus Hunkwe" yang viral belakangan ini adalah potret sempurna betapa murahnya harga sebuah martabat di hadapan ambisi viralitas.

Seorang wanita dengan nada bicara penuh otoritas memfitnah seorang kakek penjual es gabus. Tuduhannya konyol: es itu berbahan spons karena kenyal. Sebuah pernyataan yang lahir dari rahim ketidaktahuan, namun dipublikasikan dengan penuh keberanian. Di sinilah letak ironinya: tingkat kepercayaan diri seseorang seringkali berbanding terbalik dengan kedalaman pengetahuannya.

Konten di Atas Nurani Kita sedang hidup di era di mana "rekam dulu, pikir belakangan" telah menjadi agama baru. Ada dorongan narsistik untuk menjadi orang pertama yang menemukan "skandal," hingga kita lupa bahwa yang kita jadikan objek konten adalah manusia bernyawa dengan harga diri yang juga punya batas.

Kakek penjual es itu bukan sekadar pedagang; ia adalah representasi dari gigihnya rakyat kecil yang mencoba bertahan di tengah badai ekonomi. Memfitnah dagangannya tanpa verifikasi bukan hanya tindakan bodoh secara teknis, tapi merupakan kejahatan kemanusiaan secara moral. Satu video singkat sanggup menghancurkan kepercayaan pelanggan yang telah ia bangun berpuluh-puluh tahun.

Sanksi Sosial: Pedang Bermata Dua Reaksi netizen yang bergerak cepat membongkar identitas sang pemfitnah memang terasa seperti "keadilan yang instan." Namun, mari kita renungkan: jika keadilan harus selalu ditegakkan melalui pengadilan jalanan digital (doxing), bukankah itu tanda bahwa sistem nilai dan adab kita sedang runtuh?

Kita tidak butuh lebih banyak "polisi moral" di TikTok. Yang kita butuhkan adalah kembalinya rasa malu dan sedikit jeda sebelum menekan tombol upload. Ketidaktahuan akan tekstur tepung hunkwe sebenarnya bisa diselesaikan dengan riset satu menit di Google. Namun, penyakit ingin dianggap "pahlawan konsumen" telah menutup pintu logika.

Menutup Luka Pada akhirnya, permintaan maaf di atas materai sepuluh ribu tidak akan pernah cukup untuk membasuh trauma sang kakek atau mengembalikan nama baiknya secara utuh. Luka di hati tak bisa sembuh hanya dengan video klarifikasi berdurasi satu menit.

Pesan saya sederhana: Jika Anda tidak punya ilmu untuk menguji sebuah produk, setidaknya milikilah adab untuk tidak menghancurkan hidup orang lain. Jangan sampai jempol Anda yang pendek menciptakan luka yang terlalu dalam bagi sesama. Sebab di atas langit digital yang bising ini, ada Tuhan yang mencatat setiap fitnah yang kita sebar sebagai utang yang harus dibayar.

Tag Terpopuler

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update