"Lihatlah ponsel ini. Teknologi tercanggih yang pernah diciptakan manusia, tapi tetap saja tidak bisa memberikan notifikasi yang paling aku inginkan. Lucu, ya? Kita sudah sampai di tahun 2026, tapi aku masih terjebak di tahun saat kita terakhir kali saling menyapa.
Mereka bilang cinta itu seperti api; kalau tidak diberi makan, dia akan padam. Tapi mereka bohong. Ada jenis cinta yang tidak butuh bahan bakar untuk tetap menyala. Dia seperti radiasi. Tidak terlihat, tapi merusak pelan-pelan dari dalam. Dia menolak menjadi masa lalu."
"Aku sudah mencoba menutup semua pintu. Mengganti semua kata sandi hidupku. Bahkan menghapus jejak digitalmu. Tapi cinta yang belum terselesaikan itu... dia tidak butuh pintu untuk masuk. Dia masuk lewat celah hujan, lewat aroma kopi, atau lewat keheningan jam dua pagi.
Kenapa kamu masih jadi kalimat yang menggantung? Kenapa kamu adalah tanda koma di saat aku sangat butuh sebuah titik? Aku lelah menjadi penjaga makam untuk kenangan yang seharusnya sudah dikubur sejak lama."
"Besok Februari akan datang. Bulan yang katanya penuh cinta. Tapi bagiku, Februari hanyalah Januari yang berganti nama jika kamu masih belum selesai di kepalaku.
Tahun 2026 tidak mengubah apa-apa soal rasa. Aku masih Prasetyo yang sama. Yang masih mencintaimu dalam diam, dalam doa yang tidak pernah sampai, dan dalam sebuah cerita yang... entah kapan akan benar-benar selesai."
