Oleh: Prasetyo Budi
Pembangunan gerai dan pergudangan Koperasi Desa Merah Putih terus dikebut. Namun percepatan fisik semata tidak otomatis menjamin keberhasilan. Justru di titik inilah ujian sesungguhnya dimulai: apakah koperasi mampu menyamai kecepatan bangunan dengan kesiapan manajemen, atau hanya berhenti pada kebanggaan atas beton dan dinding yang berdiri lebih cepat dari kesiapan pengelolaan.
Pengalaman di banyak daerah menunjukkan, kegagalan koperasi kerap bukan disebabkan kurangnya fasilitas, melainkan lemahnya tata kelola. Gudang sudah ada, tetapi sistem distribusi belum siap. Gerai berdiri, namun manajemen usaha belum matang. Situasi semacam ini harus menjadi pelajaran penting, agar percepatan pembangunan tidak berujung pada kebingungan operasional saat koperasi resmi dijalankan.
Karena itu, pengurus koperasi dituntut untuk tidak berjalan santai. Percepatan fisik harus diiringi dengan percepatan nonfisik: penataan administrasi yang tertib, penguatan sumber daya manusia, penyusunan standar operasional prosedur, serta pemetaan unit usaha yang realistis dan berkelanjutan. Tanpa itu semua, koperasi berisiko hanya tampil megah di luar, tetapi rapuh di dalam.
Momentum pembangunan ini seharusnya dijadikan titik balik pembenahan menyeluruh. Koperasi tidak dibangun untuk sekadar diresmikan, melainkan untuk dijalankan secara profesional dan dipertanggungjawabkan kepada anggota serta masyarakat desa. Jika pengurus mampu menjawab tantangan ini, maka Koperasi Desa Merah Putih akan tumbuh sebagai instrumen kemandirian ekonomi rakyat. Namun jika tidak, bangunan yang berdiri cepat itu justru akan menjadi pengingat bahwa koperasi pernah menang di beton, tetapi kalah dalam pengelolaan.
